Dibalik Gemerlap Festival BEC, Ada Pergerakan Mesin Ekonomi Bernama UMKM

$rows[judul]
Keterangan Gambar : Bupati Ipuk Mendampingi Perwakilan BI

BANYUWANGI –  BEC Dipotret bukan sebagai parade busana semata, melainkan sebagai ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan transaksi ekonomi yang menghidupkan UMKM. Fokus utama pada dorongan ekonomi yang bekerja di belakang panggung Karnaval.

Gemerlap kostum etnik yang melintas di atas aspal hanyalah wajah yang paling mudah dikenal dari Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Di balik sorotan lampu dan riuh tepuk tangan, ada dorongan lain yang bekerja diam-diam: kasir-kasir UMKM yang terus berbunyi, tangan-tangan pelaku usaha yang sibuk melayani pembeli, hingga pertemuan bisnis yang melahirkan peluang baru.

Selama empat hari, 16–19 Juli 2026, BEC berkolaborasi dengan Sekarkijang Creative Festival (SCF) yang diinisiasi Bank Indonesia Jember. Kolaborasi itu mengubah kawasan festival menjadi ruang budaya dan ekonomi yang saling menghidupi. Sebanyak 624 pelaku UMKM mengambil bagian, bukan sekadar memamerkan produk, namun membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.

Baca Juga :

Hasilnya bukan hanya keramaian yang mudah ditangkap kamera. Nilai transaksi business matching mencapai Rp1,22 miliar, disertai potensi pembiayaan sebesar Rp2,8 miliar. Angka-angka tersebut menjadi penanda bahwa sebuah festival budaya mampu melahirkan efek ekonomi yang nyata.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Achmad, menyebut capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan SCF x BEC pada tahun sebelumnya. Lebih dari 9.000 pengunjung yang mengunjungi area pameran, menjadikan setiap stan sebagai ruang dialog antara produk lokal dan calon pasar.

Di parade sela-sela, aroma kopi, rempah, makanan tradisional, hingga kerajinan tangan seolah memiliki panggungnya sendiri. Pengunjung yang semula datang untuk menyaksikan kostum spektakuler, pulang membawa tas berisi produk UMKM Banyuwangi. Karnaval tidak lagi berhenti menjadi tontonan, tetapi berubah menjadi peristiwa ekonomi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, tujuan sebuah acara bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memastikan manfaat yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, pelaku UMKM, pedagang kaki lima, kuliner, transportasi, hotel, hingga penjual suvenir harus ikut menikmati berkah dari ramainya penyelenggaraan BEC.

Oleh karena itu, dalam setiap penyelenggaraan BEC, denyut ekonomi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan budaya. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula peluang terciptanya usaha-usaha kecil untuk berkembang.

Malam penutupan BEC 2026 di Gesibu Blambangan menjadi simbol berakhirnya rangkaian festival. Penghargaan BEC Awards diberikan kepada para kreator terbaik, termasuk Arinal Firdaus yang meraih Best Costume melalui karya "Antek-Antek VOC" dalam tema "Perang Bayu: The Great War of Blambangan" .

Namun, sebenarnya yang ikut meraih kemenangan malam itu bukan hanya para desainer dan talenta. Kemenangan juga dirasakan para pelaku UMKM yang memperoleh pelanggan baru, memperluas jejaring usaha, bahkan membuka peluang kerja sama bisnis bernilai miliaran rupiah.

Di Banyuwangi, karnaval akhirnya tidak hanya berjalan di atas catwalk panjang bernama jalan raya. Ia juga menjelajahi etalase-etalase kecil, meja-meja pameran, dan harapan para pelaku usaha yang percaya bahwa budaya dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan.