Tak Sekedar Menonton, Wisatawan Asing Ikut Menjadi Bagian Kisah Perang Bayu di BEC 2026

$rows[judul]
Keterangan Gambar : Bupati Banyuwangi Asik bersama wisatawan asing

BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 menghadirkan pengalaman berbeda bagi puluhan wisatawan mancanegara. Mereka tidak hanya menjadi penonton, namun ikut berjalan dalam parade budaya bertema Perang Bayu – Perang Besar Blambangan, menjadikan festival ini sebagai panggung diplomasi budaya yang mempertemukan berbagai bangsa.

Puluhan wisatawan dari Belgia, Inggris, Amerika Serikat, Swedia, Pakistan, Afrika, Belanda, dan sejumlah negara lainnya mengenakan kostum etnik yang terinspirasi dari kisah heroik Perang Bayu. Bersama ratusan talenta lokal, mereka menempuh rute parade sekitar dua kilometer dari Taman Blambangan hingga Jalan Ahmad Yani.

Keikutsertaan mereka menjadi warna tersendiri dalam penyelenggaraan BEC yang memasuki tahun ke-14. Interaksi antara masyarakat Banyuwangi dengan wisatawan asing berlangsung sejak proses persiapan hingga pelaksanaan karnaval.

Baca Juga :

Jerome, wisatawan asal Belgia, mengaku kunjungan pertamanya ke Indonesia menjadi semakin berkesan karena bertepatan dengan penyelenggaraan BEC.

"Saya sangat bersemangat. Ini pertama kali saya ke Indonesia, pertama kali juga ke Banyuwangi dan bertepatan dengan digelarnya acara BEC. Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari agenda akbar masyarakat Banyuwangi ini," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Murad, wisatawan asal Pakistan. Pemuda berusia 21 tahun itu menyebut keterlibatannya dalam parade budaya menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan selama berada di Indonesia.

Sementara itu, Melissa Curtis dari Inggris mengaku semakin mengagumi budaya Banyuwangi setelah mengetahui filosofi di balik kostum yang dikenakannya.

"Pengalaman luar biasa. Pakaian yang saya kenakan ini ternyata sarat filosofi," katanya.

Tak hanya peserta, wisatawan asing yang menyaksikan langsung parade juga mengaku terkesan. Cynthia, wisatawan asal Belanda, memuji kreativitas para peserta yang mampu memadukan unsur seni, sejarah, dan budaya dalam balutan kostum megah.

"Luar biasa, sangat memukau dengan kostumnya yang megah. Yang paling menarik adalah sejarah yang diangkat pada pertunjukkan ini. Semuanya bagus dan indah. Orang-orang di sini juga ramah, suatu saat saya akan ke sini lagi," ungkapnya.

BEC 2026 berlangsung meriah dengan ribuan penonton yang memadati sepanjang rute parade. Meski pertunjukan dimulai pukul 13.00 WIB, masyarakat telah berdatangan sejak pagi untuk mendapatkan lokasi terbaik menyaksikan karnaval budaya terbesar di Banyuwangi tersebut.

Mengusung tema “Perang Bayu – The Great War of Blambangan”, BEC tahun ini mengangkat kisah perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajahan Belanda pada abad ke-18. Melalui perpaduan seni pertunjukan, kostum artistik, dan narasi sejarah, BEC kembali menegaskan posisinya sebagai festival budaya yang tidak hanya mempromosikan pariwisata, tetapi juga memperkenalkan identitas dan nilai-nilai budaya Banyuwangi kepada masyarakat internasional.