Oleh Arip Marsudi
Barangkali yang paling sepi di zaman ini bukanlah hutan yang kehilangan burung, atau masjid yang kehilangan jamaah Subuh. Yang paling sepi adalah hati manusia yang kehilangan arah pulang.
Kita hidup di tengah keramaian, namun semakin sulit menemukan kehadirannya. Kata-kata cinta bertebaran di mana-mana, sementara kasih sayang semakin mahal harganya. Orang begitu mudah mengucapkan "aku sayang", tapi begitu sulit mengucapkan "maafkan aku". Kita pandai merangkai kalimat, tetapi sering gagal merangkai akhlak.
Padahal cinta tidak pernah tumbuh dari lidah. Ia tumbuh dari jiwa yang telah lama belajar tunduk.
Baca Juga :Mungkin karena itulah cinta yang lebih pantas direnda daripada diumumkan.
Merenda adalah pekerjaan yang sunyi. Ia tidak mengenal tepuk tangan. Yang ada hanyalah ketekunan, kesabaran, dan kesediaan mengulangi simpulan yang salah tanpa menyalahkan benang. bukankah hidup juga demikian? Allah tidak meminta kita menjadi sempurna. Allah hanya meminta kita terus memperbaiki simpul-simpul yang kusut di dalam diri. Lalu kita sebutkan hijrah.
Banyak orang ingin dicintai semesta.
Mereka ingin namanya disebut, wajahnya dikenal, pendapatnya dipuji, kehadirannya dirayakan. Mereka mengejar sorak-sorai manusia, seolah tepuk tangan dapat memperpanjang umur atau memperingan hisab.
Padahal semesta tidak pernah mengenal popularitas. Gunung tetap tegak meski tak seorang pun memotretnya.Pohon tetap berbuah meski tidak ada yang memujinya. Matahari tetap terbit meski sebagian manusia memilih menutup tirai. Alam tidak sibuk membuktikan dirinya berguna. Ia cukup taat kepada Tuhannya.
Barangkali itulah ibadah paling tua yang sering gagal dipelajari manusia.
Kita ingin menjadi besar, tetapi enggan menjadi rendah hati.
Kita ingin dihormati, tapi lupa menghormati.
Kita ingin mendengarkan, tetapi terlalu sibuk berbicara.
Kita ingin dicintai Allah, sementara hati masih penuh dengan kekaguman kepada diri sendiri.
Betapa seringnya kita mengira bahwa yang harus berubah adalah dunia.
Padahal yang diminta Allah hanyalah hati kita.
Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia melihat langit, memperhatikan hujan, merenungkani gunung, menyaksikan pergantian malam dan siang. Bukan karena Allah sedang mengajarkan astronomi atau geografi, melainkan karena alam semesta adalah kitab yang terbuka. Setiap daun adalah huruf. Setiap embun adalah titik. Setiap angin adalah kalimat yang mengajarkan satu pesan yang sama, Taatlah sebagaimana kami taat.
Gunung tidak pernah meminta menjadi laut.
Laut tidak iri kepada langit.
Bintang tidak memprotes mengapa ia hanya tampak pada malam hari.
Semuanya ridha pada ketetapan Allah.
Hanya manusia yang sering berdebat dengan takdir sambil menyebut ambisi.
Lalu kita berkata, "Aku sedang merayu alam semesta."
Semesta tidak pernah bisa dirayu.
Yang bisa dirayu hanyalah hawa nafsu.
Semesta hanya patuh kepada Rabb-nya.
Maka, bila ingin bersahabat dengan alam semesta, jangan rayu semestanya. Rayulah Tuhan yang menjamin seluruh alam semesta dengan sujud yang lebih panjang, doa yang lebih jujur, dan akhlak yang lebih lembut.
Sebab ketika Allah ridha, angin yang sama dapat menjadi penyejuk.
Hujan yang sama dapat menjadi berkah.
Tanah yang sama dapat menjadi sumber kehidupan.
Sebaliknya, ketika manusia menjauh darinya, kemewahan pun terasa sempit. Rumah membesar, tetapi keluarga mengecil. Jalan semakin lebar, tapi hati semakin sempit. Informasi melimpah, tetapi hikmah menjadi barang langka.
Inilah ironi peradaban.
Kita berhasil menghubungkan benua dengan kabel dan satelit, tetapi gagal menghubungkan hati dengan sajadah.
Kita mampu membaca wajah melalui teknologi, namun tidak lagi mampu membaca air mata orang tua.
Kita menghitung kekayaan dengan angka, tetapi lupa menghitung nikmat dengan syukur.
Padahal Allah tidak pernah menilai seberapa tinggi kita berdiri.
Allah melihat kepada siapa kita bersujud.
Akhirnya merenda cinta bukan sekedar mencintai manusia. Ia berjanji seluruh sikap agar layak dipersembahkan kepada Allah; sabar menjadi benangnya, ikhlas menjadi jarumnya, dan takwa menjadi motif yang memperindahnya.
Padahal mewujudkan semesta bukanlah meminta langit mengubah takdir. Ia memperbaiki diri hingga bumi menjadi tempat yang senang dipijak, pepohonan menjadi saksi kebaikan, malaikat mencatat dengan gembira, dan doa-doa menemukan jalan menuju Arasy.
Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah tentang seberapa banyak manusia mengenal nama kita.
Melainkan apakah, ketika nama itu dipanggil di hadapan Allah kelak, para malaikat mengenangnya sebagai hamba yang pernah berusaha mencintai dunia secukupnya, namun mencintai Tuhannya tanpa syarat.
Karena cinta yang paling agung bukanlah ketika kita berhasil memiliki seseorang.
Melainkan ketika Allah berkenan memiliki hati kita. Allah kelak, para malaikat mengenangnya sebagai hamba yang pernah berusaha mencintai dunia secukupnya, namun mencintai Tuhannya tanpa syarat.
Karena cinta yang paling agung bukanlah ketika kita berhasil memiliki seseorang.
Melainkan ketika Allah berkenan memiliki hati kita.